Work is Not a Job

Hey! I almost forgot that I have a blog haha

      Today I want to share my opinion about someone else’s writing through his blog and please excused my bad English but I will someday use English in my blog. Here it is..

       Jadi begindang ceritanya ada orang yang merasa kalau teriakan-teriakan orang sekitar bilang kalau dia kerja sebagai pegawai yang harus tiap hari berangkat pagi pulang malam sebagai aktivitas yang engga keren. Gue pikir bener sih kata orang-orang itu karena menurut gue jadi pegawai itu ga keren bgt meskipun katanya kalau ga ada pegawai gimana perusahaan bisa ngejalanin perusahaannya. Apa semua orang mau jadi bos? Terus siapa yang dipimpinnya?

Nah, sesuai tag line yang sudah gue rancang dengan indah (Tsaah..)

     Gue mau cerita sedikit dengan dua orang anak muda, anak muda pertama keren bgt akademik jago ngomongnya cas cis cus dan yang satu pendiem tapi idenya cemerlang bisa buat usaha kecil-kecilan meski modalnya masih diambang batas alias pas-pasan. Ketika lulus udah pasti dong ya yang akademik jago dipilih oleh perusahaan multinasional dan yang satu lagi nerusin usahanya karena berhubung udah jalan lama usahanya dan belum balik modal si muda kedua harus mutar otak buat inovasi di bisnisnya biar menguntungkan. Sedangkan orang muda pertama bernasib luckily dia harus ikut Operasional Development Program (ODP), On The Job Training, Pelatihan dan penempatan di daerah di seluruh Indonesia cuma bedanya si orang muda pertama ini lebih strict to the rule dalam arti ada aturan yang sudah baku yang mengatur dia harus mau ngapain aja ke depannya biar dia siap jadi robot kantoran maksudnya orang yang bisa diandalkan buat menuhin target-target dimana tempat dia bekerja. Namun, yang membedakan orang muda pertama dengan orang muda kedua ialah orang muda kedua juga punya target yap! target yang dia buat sendiri untuk mengatur dan mencapai tujuan yang dia buat demi kesuksesannya sendiri kalau orang lain melihat sisi mulianya dari mempekerjakan orang lain berarti menyumbang bagi tersedianya lapangan pekerjaan bagi pengangguran (dan untungnya lebih gede dari gaji sebulan hihihi ^.^).  

     Setelah menimang-nimang dari kedua kasus diatas, sebenarnya gue lebih cenderung memilih menjadi pengusaha karena usaha dan prosesnya tidak mudah. Melibatkan otak, tenaga, pikiran, dan biaya serta tidak ada ilmu pastinya. Meskipun tidak ada ilmu pasti namun bisa dipelajari melalui kisah sukses orang lain dan ditambah perhitungan secara matematis yang mampu memprediksi keadaan mendatang namun satu hal yang menarik dari kasus diatas bahwa kita janganlah menyalahkan pendapat orang katanya negara demokrasi kok malah marah-marah kalau diri merasa tersinggung oleh kata orang lain. Pegawai sudah banyak sekali di Jakarta sehingga setiap hari macet melanda Jakarta,Sob! ditambah marah-marah malah engga menyelesaikan masalah. 
       Fasilitas gedung mewah dan kantor berstandar internasional dengan segala hal sesuai kemodernan zaman juga menjadi pertimbangan bagi sebagian besar insan muda yang ingin memiliki karier cemerlang di masa depan. Bukan berarti gue berkata seperti ini mengagungkan seorang pengusaha tetapi bagi gue usaha yang belum membuahkan hasil juga selalu dipandang sebelah mata kok artinya baik sebagai pengusaha ataupun sebagai pegawai kantoran dua-duanya ada waktu yang tepat dimana kita harus sadar apa kita ini sudah di jalan yang benar?hehe. Jadi apalah kita dengan perkataan orang lain karena proses hanya kita dan Tuhan yang tahu so manfaatkanlah umur yang ada untuk berselancar di arena fantasimu (dunia kita hidup sekarang) buatlah arah dan tujuan yang jelas salah satunya yang bisa membuat semangatmu menggebu-gebu ketika menjalaninya terlepas menjadi pegawai pengusaha ya! Enjoy!



0 Comments:

Post a Comment